BADMINTON LOVERS .: Bangga

Sabtu, 20 November 2010

Bangga

Asian Games
Dayung, Aku Bangga Jadi Warga Indonesia
Sabtu, 20 November 2010 | 11:58 WIB
Tim perahu naga putra Indonesia meluapkan kegembiraan seusai upacara pemberian medali nomor 500 meter straight race putra di Zengcheng Dragon Boat Lake, Guangdong, China, Jumat (19/11). Tim perahu naga putra Indonesia berhasil mempersembahkan medali emas kedua untuk Indonesia. 
 
KOMPAS.com — Tidak terasa air mata menitik tatkala pahlawan olahraga Indonesia dari cabang dayung, nomor perahu naga 250 meter, memasuki finis di Danau Zengcheng, Provinsi Guangdong, China, Sabtu (20/11/2010) pagi. Emas ketiga Indonesia yang semuanya dari cabang dayung telah diraih pada ajang bergengsi Asian Games 2010. Hattrick man!
Tiga emas itu membuat hati menjadi sejuk di tengah berita derita bencana silih berganti, Wasior, Mentawai, dan Gunung Merapi. Emas itu bahkan mengangkat wajah yang tertunduk malu tatkala berpaling melihat dunia keadilan negeri ini yang ternyata masih milik orang-orang berduit. Tidak peduli duit itu haram, uang maling, perampok, pemeras, serta kongkalikong pengemplang pajak.
Mengutip perkataan Adhyaksa Dault, mantan Menteri Olahraga Indonesia, hanya ada dua peristiwa bendera Merah Putih berkibar dan lagu "Indonesia Raya" dikumandangkan di luar negeri. Pertama, kunjungan kenegaraan Presiden RI. Kedua, pejuang olahraga meraih medali emas pada event-event resmi, seperti SEA Games, Asian Games ataupun olimpiade.
Suasana batin saat mendengarkan lagu "Indonesia Raya" dan melihat kibaran Sang Saka Merah Putih di negeri orang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan di televisi. Di negeri orang, ke-Indonesia-an menjadi begitu kental. Haru, tertawa, menangis gembira, terbawa suasana, terenyuh, bersalaman, dan berpelukan menjadi pemandangan yang sangat lumrah. Pejuang olahraga, ofisial, dan penonton larut menjadi satu kesatuan utuh dan yang paling utama, kita layak bangga menjadi warga Indonesia.
Mendapat medali emas pada ajang sekelas Asian Games, yang diikuti oleh 45 negara di seluruh Asia, bukan perkara mudah. China sejak tahun 2008 telah menjadi negara Asia pertama yang sukses membina olahraga sedunia, mengalahkan negara adidaya Amerika dan negara-negara Eropa lainnya yang selama ini bercokol di peringkat atas dunia. China berhasil mengalahkan mitos bahwa warga Asia yang berperawakan kecil-kecil tidak mungkin menciptakan gladiator tangguh kelas dunia secara massal. Masih ada negeri tangguh Asia lainnya, yakni Korea dan Jepang, yang senantiasa mampu berada di urutan sepuluh besar dunia. Bersaing dengan atlet-atlet dari tiga negara kelas dunia itu sudah merupakan sebuah kebanggaan buat atlet Indonesia.
Perolehan tiga emas itu telah menempatkan Indonesia pada urutan 10 besar sementara Asian Games Ghuangzou 2010, menggeser negara tetangga Malaysia. Kedudukan itu masih mungkin naik lagi apabila cabang favorit bulu tangkis mampu menyumbangkan emas seperti biasa. Yang jelas, perolehan medali Indonesia sudah lebih baik dibandingkan Asian Games Doha, Qatar 2006, yang hanya mendapat dua emas lewat Taufik Hidayat (bulu tangkis) dan Ryan Leonard Lalisang (boling).
Hampir pasti peringkat Indonesia bakal lebih baik dari Doha 2006 yang menduduki posisi ke-21 atau menempati urutan menyedihkan, keenam Asia Tenggara, di bawah Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Pada Asian Games 2010 ini, berada di posisi tiga besar Asia Tenggara rasanya cukup menjanjikan.
Dayung telah menjadikan nama Indonesia terangkat ke posisi lebih baik di Asia. Kondisi ini hampir sama seperti pada SEA Games Vietnam 2003 lalu, tatkala cabang dayung menjadi primadona dan tulang punggung Indonesia dalam perolehan medali setelah terseok-seok di hari-hari awal. Kini, berkat dayung, Indonesia telah menancapkan kuku tidak hanya di Asia Tenggara, bahkan Asia.
Rasa terima kasih dan salut patut disampaikan kepada Ahmad Sutjipto yang dalam satu dekade terakhir berkecimpung membina olahraga dayung. Mantan orang nomor satu di TNI AL itu patut diberi penghargaan tanda jasa kenegaraan atas prestasinya memunculkan pejuang-pejuang olahraga baru di kancah Asia.
Tandem Pak Tjip, demikian panggilan akrab Sutjipto, dengan Budiman Setiawan, Sekretaris Jenderal Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI), bersama pengurus lainnya memang sudah teruji.
Saya mengenal baik Pak Tjip dan Budiman secara pribadi. Sepak terjang Pak Tjip pada Program Atlet Andalan semasa Menpora Adhyaksa Dault telah meletakkan dasar-dasar pembinaan olahraga yang baik pada masa depan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayang, urusan nonteknis dan politis menghambat beliau untuk membina olahraga Indonesia lewat Prima yang kini digawangi oleh Tono Suratman. Bukan berarti Tono bukan orang yang mumpuni dalam bidang olahraga, melainkan tenaga Pak Tjip masih dibutuhkan olahraga negeri ini.
Apa pun yang terjadi, berkat dayung, aku bangga menjadi warga Indonesia. (Syahnan Rangkuti, mantan anggota Tim Monitoring Pelatnas Asian Games Qatar 2006).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar